Kamis, 18 Agustus 2016

MIDI BUKU ENDE

Midi lagu Buku Ende No. 001 s/d No. 050.

Silahkan download filenya di :

DOWNLOAD MIDI BUKU ENDE 001 s/d 050

File midi Buku Ende ini diperoleh dari sumber : midi buku ende


Rabu, 27 Juli 2016

Warna Batak dan Teori Freud

Arus utama kebudayaan adalah universalisme. Dapat kita lihat dari keterkaitan antarproduk kebudayaan, bahkan lintas negara. Apalagi jika menyangkut nilai-nilai yang dikandungnya. Namun sayang, seringkali nilai-nilai ini tak sempat digali. Baik dikarenakan ketakmampuan pemilik budayanya, atau akibat dari trend keseragaman global.Contohnya adalah warna Batak (Toba). Seperti kita tahu, ciri khas warna Batak adalah hitam-putih-merah. Warna-warna ini akan bermakna bila susunannya tepat. Jika bentuknya piramida, maka merah adalah yang paling dasar. Selanjutnya putih, kemudian hitam pada bagian atas. Begitu juga bila dipakai dalam seni ukir atau lazim disebut gorga.Ornamen-ornamen kecil adalah merah, yang sisinya putih. Sedangkan bagian penampang berwarna hitam. Memang aturan ini terkesan kaku. Namun jika orientasinya berdasarkan nilai, maka harusnya pakem-pakem itu dipatuhi. Secara simbol, masing-masing warna itu dapat kita artikan sebagai berikut.Lebih dulu akan kita pahami nilai-nilai warna itu sendiri, sebelum kita kaitkan dengan dasar hukum dan spiritualitas yang mendasarinya. Hitam. Secara umum, psikologi warna ini menyiratkan karakter kuat, teguh dan bijaksana. Dalam teori fisika, spektrum warna hitam tidak memancar keluar. Justru ia menyerap energi sehingga si pemakainya akan tetap hangat, meski dalam keadaan cuaca dingin.Sedangkan putih yang melambangkan kesucian, merupakan warna yang netral terhadap warna-warna lain. Spektrum yang ia pancarkan dapat diterima warna lain sehingga menghasilkan kombinasi yang harmonis. Efek warna yang dihasilkan mengandung sifat keikhlasan. Karena sifatnya itu, tidak heran jika putih menjadi warna wajib bagi sejumlah profesi yang berkaitan langsung dengan manusia. Contohnya dokter, palang merah, perawat, biarawati dan lainya.Demikian juga merah. Spektrum yang dipancarkan warna ini sangat kuat. Sehingga apa yang ada di sekitarnya ikut berpengaruh. Merah menyimbolkan keberanian, kekuatan bahkan angkara murka. Tidak heran jika warna merah dijadikan simbol power.Psikologi warna ini sebenarnya bersifat universal dan lazim ditemukan di kelompok-kelompok masyarakat tradisional. Bahkan dalam banyak literasi kebudayaan di luar Indonesia, sering kita temukan pemaknaan yang sama. Yang membedakannya adalah legitimasi atau sumber-sumber tertentu yang mendasari lahirnya keyakinan itu. Di masa lalu, biasanya sumber-sumber itu selalu berkaitan dengan hal-hal yang berbau spiritual.Representasi Tiga DewaPada masyarakat tradisi Batak Toba, ketiga warna ini merupakan representasi dari Debata Natolu (tiga dewa). Ketiga dewa itu yakni Batara Guru, Sori Sohaliapan dan Bala Bulan. Dalam keyakinan Batak Toba, kepada Debata Natolu inilah masa depan bumi dan kehidupannya diserahkan oleh Mulajadi Nabolon (sosok Pencipta). Pada prinsipnya kolaburasi Debata Natolu itu adalah Mulajadi Nabolon. Dengan pengertian lain, Debata Natolu merupakan bagian dari masing-masing fungsi Mulajadi Nabolon. Tidak jauh dari prinsip trinitas yang diimani pemeluk agama Kristen, khususnya Katolik.Maka ketiga sosok inipun memiliki peran dan fungsi yang berbeda-beda. Batara Guru berperan sebagai peletak dasar hukum bagi manusia sehingga fungsinya adalah sebagai hakim agung. Hakim adalah sosok mulia yang memiliki karakter yang bijaksana. Keputusannya harus berlaku adil dan benar. Apabila ia salah menentukan keputusan, maka ia telah mengorbankan kehidupan orang lain. Demikianlah Batara Guru disimbolkan sebagai warna hitam. Ia adalah pengambil keputusan dalam kosmologis Batak Toba.Sori Sohaliapan dalam spiritual Batak Toba hadir sebagai sosok yang bertugas menegur orang-orang yang bersalah. Tugas terpentingnya adalah mengajak manusia bertobat. Karenanya Sori Sohaliapan disimbolkan dengan warna putih. Warna putih adalah fase yang harus dilalui manusia agar mencapai tingkat kebijaksanaan yang tinggi. Dalam arti harus dengan jalan pertobatanlah, maka manusia akan menjadi sosok yang bijaksana. Sori Sohaliapan layaknya sebuah cermin refleksi bagi manusia. Karena bertugas mengajak dan memberi pertobatan bagi manusia yang berdosa, maka Sori Sohaliapan diyakini dapat menjelma dalam wujud yang tak terduga. Juga berada di tempat-tempat yang tidak terbayangkan.Terakhir adalah Bala Bulan. Bala Bulan bertugas menjaga dan memelihara kehidupan. Itu sebabnya Bala Bulan memiliki kekuatan yang dapat membangun atau menghancurkan kehidupan manusia. Bahkan Bala Bulan juga punya wewenang untuk menghukum manusia. Setelah mendapat hukuman itu, diharapkan manusia diharapkan bertobat. Dalam arti masuk ke dalam level warna putih. Seterusnya untuk kemudian menjadi bijaksana (hitam).


Teori Freud

Kita mengenal Sigmund Freud dengan “Teori Psikonalisa” nya yang membagi manusia atas tiga struktur dasar yang menggerakkan manusia. Yakni id, ego dan super ego. Ketiganya ada dalam diri setiap manusia. Id adalah naluri dasar yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Apa saja, tanpa mengenal aturan maupun norma-norma tertentu. Misalnya ketika seseorang lapar, maka id akan memerintahkan manusia supaya makan, tidak perduli seperti apa dan bagaimana caranya. Atau ketika hasrat biologisnya timbul, seseorang langsung melampiaskannya contohnya dengan bersetubuh. Tidak ada pertimbangan, apakah pasangan itu sah atau tidak. Atau dilakukan di tempat yang tepat atau tidak.Karena berdasarkan naluri dasar manusia itulah, maka sifat id menjadi bebas nilai. Yang berperan memberikan pertimbangan-pertimbangan adalah ego. Ego hadir manakala seseorang mulai mempertimbangkan apa yang ingin ia lakukan. Contoh id ingin bersetubuh, tetapi ego mengatakan tidak boleh, karena alasan-alasan tertentu. Karenanya id dan ego cenderung akan bertentangan. Sehingga manusia pun mengenal apa yang kita sebut sebagai konflik, sepanjang hidupnya.Untuk mengambil keputusan maka dibutuhkanlah super ego. Super ego sendiri sudah sarat dengan nilai-nilai yang baku; benar atau salah! Super ego sendiri terbentuk dari pengalaman spiritual atau nilai-nilai yang sifatnya dogmatis. Dalam konteks kekinian, nilai-nilai itu didapat dari ajaran agama. Super ego menjadi hakim yang menentukan siapa yang akan menang. Naluri dasar (id) atau ego? Boleh jadi id, ego dan super ego relevan dengan ajaran agama tertentu yang membagi manusia atas nafsu, akal dan budi.Psikoanalisa Freud menemukan relevansinya dengan warna Batak. Merah adalah id, energi dasar yang menggerakkan seorang manusia. Di dalamnya terdapat kekuatan yang tak terduga, yang kita sebut energi alam bawah sadar. Jika energi ini tidak dasari atas pertimbangan ego (putih) maka, kekuatan itu bisa berdampak negatif. Demikan juga dengan super ego (hitam). Super ego lah yang memberikan pertimbangan-pertimbangan moral kepada keduanya. Dengan begitu, perilaku manusia dapat diredam. Namun begitu, tidak selalu ego maupun super ego berhasil mengatasi id. Justru itulah proses terus menerus yang dijalani manusia menuju kebaikan hidupnya.Lewat spiritual tiga warna itu, dapat kita pahami apa yang hendak dicapai masyarakat Batak dalam hidupnya, yakni kesempurnaan. Urutan ketiga warna itu pada dasarnya adalah tahapan-tahapan hidup seorang manusia. Ia harus menyadari kekuatan yang ada dalam dirinya. Kekuatan itu harus diolah dan digunakan untuk kebaikan. Apabila ia dihadapkan pada suatu persoalan yang masih bersifat rasional, ego akan menegurnya. Sedangkan pada kasus-kasus tertentu, ia membutuhkan pertimbangan super ego. Maka tidak heran dalam upacara spiritual Batak, khususnya pra Kristen, masyarakat Batak sangat memperhatikan penempatan ketiga warna ini. Misalnya ketika seseorang berdoa memohon diberi kekuatan ia akan mengorbankan ayam merah dan memohon kepada Bala Bulan. Demikian pula jika hendak mengaku dosa, maka hewan kurbannya berwarna putih yang dipersembahkan kepada Sori Sohaliapan. Tetapi sesudah masuknya ajaran Kristen, detail-detail ini tidak selalu dipakai. Orang Batak cukup berdoa kepada Mulajadi Nabolon. Demikian juga warna-warna ini tak lagi dipakai secara ketat, seperti di masa lalu. 


Dimuat di Analisa, 19 Januari 2014 oleh Jones Gultomsumber : warna merah, putih, hitam


Minggu, 02 Maret 2014

TARINGOT HUTA - HORJA - BIUS

Batak Toba merupakan salah satu sub suku dari suku Batak yang berdomisili di Provinsi Sumatra Utara. Masyarakat Batak Toba memiliki berbagai kebudayaan unik, diantaranya; terlihat dalam  sistem sosial mereka yang disebut dengan harajoan. Harajoan dapat didefiniskan pola kepemimpinan dan sistem kemasyarakatan dalam kebudayaan masyarakat  Batak Toba. Sistem Harajoan berlaku pada dua level organisasi sosial masyarakat Batak Toba, yaitu suku dan kampung atau Huta. Harajoan tidak hanya berkaitan dengan pengorganisiran para anggota suku maupun huta, tetapi juga mengatur  mengenai luas teritori dan pola serta otorisasi  kepemimpinan dalam suatu suku dan huta (Vergouwen, 1986).

Ketika beberapa suku telah sepakat untuk tinggal bersama dalam suatu daerah, maka di daerah tersebut akan didirikan suatu kampung atau huta. Huta dapat didefinisikan sebagai persekutuan terkecil masyarakat Batak (Vergouwen, 1986).

Vergouwen melukiskan Huta adalah sebagai berikut:
Wilayah huta adalah suatu lapangan kecil berbentuk empat persegi dengan halaman bagus, keras dan kosong ditengahnya–tengahnya. Disatu sisi empat bidang persegi itu berdiri sekelompok kecil rumah-rumah (ruma) berbaris; masing-masing rumah memiliki pekarangan dapur sendiri di bagian belakang . Didepan barisan rumah ada lumbung padi (sopo), dan biasanya ada satu dua kubangan lumpur. Keseluruhannya dikelilingi pohon bambu yang tinggi; kadang-kadang ada juga sebuah huta dengan parit mengelilingi. Kita akan jumpai babi menggerus-gerus tanah dibawah kolong rumah, anjing mengendus-endus disekitar, ayam yang mengais-ngais tanah, dan kucing yang tidur dibawah sinar matahari. Seorang perempuan duduk menghadapi alat tenunnya didepan salah satu rumah, sementara seorang gadis muda menumbuk padi dalam losung, dan beberapa anak bermain-main dibawah rumpun kecil pohon buah-buahan.

Huta dipimpin oleh seorang Raja Huta. Biasanya yang dipilih oleh penduduk huta untuk menjadi Raja Huta adalah pendiri huta yang bersangkutan.

Raja huta menyelesaikan masalah-masalah (kecil) antar keluarga warga huta, membagi lahan garapan bagi keluarga-keluarga, menyelenggarakan perkawinan dengan warga dari huta lain, mewakili huta keluar dsb. Status Raja huta turun-temurun kepada anak sulung. Ia adalah pengayom adat, hak ulayat (golat) dan pemimpin sekuler (soal-soal duniawi).

Makin lama huta makin dipenuhi oleh penduduk dari berbagai marga. Akhirnya beberapa penduduk pindah dan membentuk huta  baru. Hasilnya, banyak terbentuk huta di daerah kebudayaan Batak Toba. Beberapa diantara huta tersebut kemudian membentuk federasi atau persekutuan guna mewujudkan tujuan bersama diantara mereka. Persekutuan tersebut dinamakan Horja

Horja dipimpin oleh seorang Raja Horja yang dipilih dari para raja huta yang bergabung dalam federasi horja. Namun pemilihan Raja Horja ini tidaklah melalui voting, melainkan musyawarah secara terbuka.
Melalui proses pemilihan ataupun spontanitas warga maka Horja akan menempatkan beberapa raja huta sebagai wakilnya pada dewan pemerintahan sekuler yang disebut sebagai Bius . Raja huta nantinya menjadi elit politik bius yang memilih diantara mereka sebagai dewan bius dan duduk didalamnya.


Berikutnya dewan sekuler tersebut menentukan wakil-wakilnya sebagai pendeta-pendeta yaitu kelompok Parbaringin dalam bius yang bersangkutan. 
Maka dikenal perumpamaan “huta do mula ni horja, horja mula ni bius” artinya huta membentuk horja, horja membentuk bius.

Menurut Sitor Situmorang, berdasarkan kelengkapan organisasi aparatnya, bius dapat kita golongkan tiga jenis:


1. Bius tua/lengkap
Bius seperti ini dapat ditemukan di pantai barat, pantai selatan danau Toba dan di Samosir yang dipandang sebagai asal kebudayaan Toba. Disini ada dewan pemimpin (kolegial) bius yang membawahi beberapa horja sebagai bagian bius yang berwenang mengelola golat (hak ulayat), horja membawahi puluhan huta. Struktur pemerintahan inilah bentuk ideal yang selalu diusahakan diwujudkan menurut model Sianjur Mula-mula. Kondisi disekitar tepi danau memungkinkan untuk itu. Seperti halnya model Sianjur Mula-mula bius tua mempunyai organisasi parbaringin yang sifatnya turun-temurun dan tetap. Parbaringin bertugas mengatur jadwal bercocok tanam, mengatur kegiatan pemeliharaan irigasi (bondar), pemekaran wilayah persawahan baru dll


2. Bius sedang berkembang
Perkembangan migrasi dari daerah asal disekitar danau membentuk bius-bius baru ke dataran tinggi selatan danau dan barat (Humbang, Silindung, Pahae). Kepemimpinan bius masih kolegial, tetapi parbaringin tidak selalu ditemukan disini, dan sekiranya ada tidak selengkap di daerah bius tua. Oleh karena itu fungsi pekerjaan parbaringin dalam ritual-ritual dirangkap oleh pemimpin sekuler bius dan tidak bersifat tetap. Sesudah menjalankan ritual tokoh sekuler itu kembali ke status semula, tidak tetap sebagai pendeta. Hal ini wajar terjadi karena areal sawah tidak seluas di bius tua sehingga tidak melahirkan kelas/organisasi pendeta.


3. Bius kecil/terbelakang
Bius ini dijumpai dipinggiran wilayah Toba. Karena situasi setempat maka aparatnya tidak lengkap karena kepemimpinan kadang kala hanya dijalankan seorang saja/tinggal. Aparat pemerintahannya tidak memadai dan karena areal persawahannya sempit maka tidak memerlukan ritual-ritual pertanian serumit bius tua. Medannya hutan belukar dan berbatasan dengan dunia luar Toba sehingga mengharuskan adanya pemimpin tinggal untuk pengambilan keputusan yang cepat.

Setelah pemerintah Belanda berkuasa di Tapanuli, maka huta, horja dan bius tradisional dirombak. Huta tetap disebut huta tetapi maknanya sudah lain. Raja huta atau Raja Ihutan (Jaihutan) tradisional diganti menjadi kepala negeri yang tunduk pada administrasi kolonial. Beberapa huta kecil digabung dengan seorang kepala yang sering menimbulkan masalah diantara sesama warga. Istilah bius yang mempunyai makna politik dilenyapkan dan diganti jadi huta biasa. Belanda menyadari bahwa disebagian wilayah Toba organisasi bius dan dewan bius adalah perpanjangan tangan Singamangaraja. Singamangaraja dan organisasi parbaringin terkait erat dengan bius.(ama ni pardomuan)


Refleksi Demokrasi Indonesia

Demokrasi harajoan ala Batak Toba merefleksikan betapa kayanya masyarakat nusantara akan nilai-nilai demokrasi yang muncul sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia Indonesia jauh sebelum datangnya pengaruh asing di negeri ini. Ilmuwan sosial dari Universitas Leiden, Belanda, Dr. Johann Angerler, berkesimpulan bahwa masyarakat Batak Toba telah mengenal demokrasi jauh sebelum datangnya kolonialisme Eropa. Justru kolonialisme Belanda lah yang telah menghancurkan pranata demokratis dalam masyarakat Batak Toba seiring dengan penyebaran Zending Kristen yang memarjinalkan agama Parmalim. Sebelum kedatangan pihak Belanda, upaya penghancuran budaya demokratis masyarakat Batak Toba juga dilakukan oleh kaum fundamentalis Paderi dari Minang yang terpengaruh mazhab asing yang berasal dari Arab Saudi, Wahabi. 

Pasca kemerdekaan, tepatnya di era Orde Baru, penghancuran sistem demokrasi Batak Toba berjalan secara lebih sistematis melalui penerapan UU Desa tahun 1974.


Sistem harajoan yang merupakan sistem kemasyarakatan Batak Toba adalah cerminan demokrasi Indonesia atau sosio demokrasi yang berbasiskan pada musyawarah untuk mufakat. Hal ini membuka mata kita bahwa bangsa ini memiliki kearifan lokal yang kongruen dengan spirit demokrasi yang melibatkan orang banyak dalam pengambilan keputusan pada suatu masyarakat. Namun liberalisasi politik pasca reformasi justru menjerumuskan bangsa ini pada demokrasi voting khas Barat yang berbasiskan kekuatan pemodal. Sekiranya kita sebagai bangsa menyadari bila suatu hal yang datang dari luar belum tentu baik bagi bangsa ini, bahkan mungkin akan membawa bencana.  Jangan sampai kisah “Kuda Troya” terjadi berulang kali pada bangsa dan negara ini.


Dalam persekutuan Bius tersebut masyarakat Batak mempunyai duo kepemimpinan atau dwi tunggal dan umumnya tidak mengenal pemimpin (uluan) tunggal. Pimpinan yang pertama adalah pemimpin sekuler (duniawi) dan disebut Raja Bius, yang kedua adalah pemimpin rohani yang disebut Pande Bolon.


Sumber : 
http://www.facebook.com/note.php?note_id=70397578046&id=46335083162&index=0