Jumat, 20 Desember 2013

KETELADANAN dalam KEPEMIMPINAN BATAK





 Pohon Beringin melambangkan kemandirian

Kebudayaan Batak tidak sempat melahirkan suatu persekutuan masyarakat Batak dalam bentuk kerajaan atau negara. Pimpinan (Uluan) tertinggi yang pernah ada dalam  waktu yang cukup lama di tengah-tengah masyarakat Batak adalah pimpinan yang lebih bersifat rohani: Jonggi Manaor di Limbong, Ompu Palti Raja di Urat Samosir, Sorimangaraja di Balige dan yang terakhir adalah Sisingamangaraja di Bakkara, yang berkedudukan sebagai seorang Dewa Raja.

Selama berabad-abad, sebelum kekristenan dan Belanda datang ke Tanah Batak, persekutuan tertinggi yang mencakup persekutuan sekuler dan rohani yang ada dalam masyarakat Batak adalah persekutuan masyarakat yang bernama Bius.  
  • Bius adalah kesatuan wilayah dari beberapa Horja.
  • Horja adalah gabungan beberapa huta (kampung). 
 Gambar Rapat Parbaringin di Limbong Samosir

Dalam persekutuan Bius, masyarakat Batak mempunyai dua kepemimpinan atau dwi tunggal dan umumnya tidak mengenal pemimpin (uluan) tunggal. Pimpinan yang pertama  adalah pemimpin sekuler (duniawi) dan disebut Raja Bius, yang kedua adalah pemimpin rohani yang disebut Pande Bolon. Pande Bolon adalah pemimpin para Parbaringin di mana setiap Parbaringin berasal dari marga-marga  Horja dan mewakili Horjanya di lembaga Parbaringin Bius. Mereka mengakui Sisingamangaraja sebagai Dewa Raja dan adalah pemimpin rohani mereka yang tertinggi. Parbaringin berbeda dengan Datu Bolon (dukun,  yang berkeahlian di bidang black atau white magic) dan  Datu Nametmet (dukun kecil yang ahli dalam pengobatan). Datu umumnya bekerja dan dibayar sesuai pesanan seperti meramal, memanggil roh leluhur, mengobati dll, sedangkan Parbaringin  bekerja seumur hidup sebagai Pendeta agama Batak. Dalam kebersamaan memimpin Bius, Horja dan Huta, Raja-raja sekuler dan para Parbaringin mempunyai status dan fungsi yang berbeda.



Raja, sang pemimpin sekuler.



Kedudukan dan sikap (attitude) yang juga dapat dimaknai sebagai konsep kepemimpinan sekuler Batak : Raja Bius, Raja Horja maupun Raja Huta (yang biasa disebut sebagai Raja-raja Batak/Toba),  dapat dilihat dan disimak dari kata pengantar uraian hukum yang disunting oleh Panggading, raja paidua (kedua) yang terkenal dari Sisoding (Simamora). Pengantar tsb menunjukkan suatu sikap raja Batak yang ideal dalam konsep kepemimpinan seorang Raja Batak, dan di sini disunting kembali dari buku JC Vergowen/Prof.DR TO Ihromi: Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba, hal.147, sbb:



Ditompa Debata jolma mangarajai uhum, ditompa Debata do uhum mangarajai adat,

Ditompa Debata do raja mangarajai luat, asa raja i ma nampuna adat dohot uhum,

Mangarajai angka na metmet dohot na magodang, lahi-lahi dohot boru-boru,

Asa raja i do parhatian si bola timbang, parninggala si bola tali,

Pamuro so marambalang, parmahan so marbatahi,

Mangaramothon saluhut na di gomgomanna.

Sigarar utang, situnggu singir di na balga dohot di na metmet, manguhumi siuhumon,

Raja i ma sipungka solup, sitiop batuan na so ra teleng, hatian so bonaron,

Mula ni hata na sintong, na manogihon halak tu panggagatan na lomak,

Na manarihon hangoluan ni angka ginomgomanna.

Marsoban parsoban pe, parsoban ni raja. Mandurung pandurung, pandurung ni raja,

Maronan paronan, paronan ni raja. Mangula pangula, pangula ni raja.

Saluhutna i pandapotan tu raja, asa ndang tinanda hau so ingkon sian parbuena,

Ndang tinanda raja na malo, so ingkon sian pambahenanna,

Timbo buluna, balga hutana, gabe parripena maduma dohot ibana,

Sinur pinahanna, gabe niulana,

Borngin dohot arian ndang nok matana, manarihon uhum dohot adat di angka gomgomanna, pasari-sari panganonna asa adong hangoluanna.

Uraian yang puitis tsb di atas (lihat juga tulisan Raja-raja Toba di Suara HKBP edisi Desember 2006) memperlihatkan bagaimana indahnya bunyi dan isi dari konsep kepemimpinan Batak termaksud. Terungkap juga dengan sangat jelas betapa besar kewajiban dan tanggungjawab seorang Raja terhadap rakyatnya. Tanggungjawab yang besar membuat sang Raja selalu memikirkan kesejahteraan rakyatnya dan karenanya dia bisa sampai tidak tidur. Dia adalah seorang yang adil dan bijaksana,  dan dalam memimpin dia tidak boleh menggunakan kekerasan. Karena itu seorang Raja  juga akan selalu berusaha mengelak untuk memaksakan kehendaknya dengan mengatakan: sebagai Raja (atau sebagai Uluan) saya memutuskan atau memerintahkan begini dan begitu, tetapi dia harus bisa mempergunakan kemampuan dan kekuasaan yang ada di tangannya dengan keteladanan dan daya persuasi yang tinggi sehingga dia dipatuhi.  Rakyatnya yang terdiri dari pencari kayu api, nelayan, pedagang dan petani akan menurut dan meneladaninya karena dia menunjukkan kepemimpinannya dengan perbuatan-perbuatan yang baik, bukan sekedar kata-kata. Dengan meneladani Raja, rakyatpun juga harus bersikap raja (tekanan di suku akhir) dalam arti bersikap seperti seorang Raja, dalam setiap pekerjaan dan fungsi masing-masing di dalam masyarakat.



Parbaringin, sang pemimpin rohani.

Seperti telah diutarakan di atas, di  setiap Bius, seorang Raja selalu didampingi oleh sebuah lembaga Parbaringin yang diketuai oleh seorang Parbaringin atau Pendeta Utama yang bergelar Pande Bolon, dengan anggota-anggotanya para Parbaringin yang masing-masing mewakili setiap Horja anggota Bius. Mereka berasal dari marga tanah Horja dan menjabat sebagai Parbaringin untuk seumur hidup. Peri hal ke-parbaringin-an ini  kita mendapat banyak informasi yang berharga dari Vergowen (dalam bukunya tsb di atas), Sitor Situmorang (dalam bukunya Toba Na Sae) dan DR.Ir.Bisuk Siahaan (dalam bukunya Kehidupan Di Balik Tembok Bambu).

Sebagai seorang manusia biasa, dalam posisi kependetaannya mereka juga memerlukan nafkah untuk  penghidupannya di dunia ini. Untuk itu mereka mendapat sebidang tanah pertanian dan juga bagian dari iuran yang dibayar oleh semua Horja untuk upacara-upacara pemujaan/keagamaan. Semua Parbaringin bekerja atau melayani secara permanen di Horja pusat (yang berfungsi sebagai Bius), dan mereka diwajibkan bekerja untuk keseluruhan masyarakat Bius dan bukan hanya untuk lingkungan marga atau horjanya.

Parbaringin yang berstatus dan berfungsi sebagai Pendeta agama Batak, memimpin semua upacara-upacara agama Batak yang sangat banyak sepanjang tahun (terutama upacara-upacara yang berkaitan dengan kegiatan pertanian). Agama Batak  berpusat kepada Mulajadi na Bolon, Si Boru Deak Parujar, Raja Uti dan Sisingamangaraja. Umumnya Parbaringin juga merangkap sebagai ahli pertanian (dan menetapkan jenis padi dan waktu bertanamnya), ahli tehnik, pengairan dan pembagian tanah golat (ulayat).

Para Pendeta agama Batak tsb menyandang gelar Parbaringin karena mereka selalu meyematkan ranting beringin di rambutnya (manjujung baringinna) untuk menunjukkan kemandirian mereka di tengah-tengah semua marga, huta dan horja di biusnya. Dengan perkataan lain, para Parbaringin harus melepaskan semua ikatan kemargaan dengan marga asalnya, dan dengan demikian mereka harus melepaskan diri dari semua persaingan dan pertikaian antar marga yang mungkin terjadi di Biusnya. Demikianlah mereka  dihindarkan dari kemungkinan keterlibatan dalam apa yang sekarang kita sebut KKN.

Sisingamangaraja, Sang Dewa Raja dalam fungsinya sebagai atasan semua Parbaringin memberikan sebuah ajaran  kepada para Parbaringin  sbb:

Kamu dilarang meminjamkan uang, juga jangan menghutang, supaya sawah jabatanmu jangan ditimpa bencana. Kamu pantang meminjamkan uang, juga pantang menghutang, supaya kamu terhindar dari perselisihan. Kamu dilarang berzina, karena kamu adalah hakim. Sama sekali kamu tidak boleh memasung orang, terlibat dalam perampokan, pantang ikut dalam permusuhan, sekalipun diantara pihak-pihak yang bermusuhan saudaramu sendiri terlibat. Kuajarkan padamu: jadilah penyelamat apa saja yang  terperangkap bubu, pembebas bagi mereka yang terjerat jatuh di liang.



Ajaran tsb di atas menegaskan kewajiban para Parbaringin untuk selalu bersikap netral dan adil dalam setiap permasalahan yang timbul di masyarakat bius. Mereka juga harus menjadi penyelamat bagi orang-orang yang ditimpa bencana dan yang mengalami ketidak-adilan.

Para Parbaringin juga harus selalu  mematuhi aturan- aturan untuk mereka, antara lain: 
  • tidak boleh memakan sembarang makanan, 
  • tidak boleh memotong rambut namun harus selalu berpenampilan baik,
  • tidak boleh memotong rambut orang lain, harus memakai pakaian yang sudah ditentukan, 
  • tidak boleh melakukakn pekerjaan kotor dan tidak pantas untuk jabatannya seperti mengumpulkan sampah, menyapu, membakar lalang, menyiangi rumput, bertukang, memikul mayat. 
  • Mereka  juga tidak boleh berdusta, bersumpah, mengambil milik dan merugikan orang lain, dan harus berbicara seperlunya saja dan setiap kata yang diucapkannya haruslah bermakna.

Karena jabatannya mereka mendapat beberapa keistimewaan sbb:
  • Harta Parbaringin tidak boleh dicuri, karena itu sama denga mencuri barang sombaon (hantu leluhur yang disembah). 
  • Parbaringin tidak boleh diminta bersumpah. 
  • Kalau Parbaringin duduk bersila, tidak boleh ada orang berdiri di garis pandangnya.
  • Setiap orang yang berpayung harus menutupkannya sampai Parbaringin melewatinya.
  • Orang yang menunggang kuda harus turun kalau bertemu dengan Parbaringin.
  • Tidak boleh mendahului Parbaringin kecuali disilahkannya.
  • Memberikan sesuatu kepada Parbaringin harus dengan tangan kanan, dan kalau terpaksa dengan tangan kiri, harus menyebut: siamun ale ompung (ini tangan kanan ompung).
 
Dari keistimewaan-keistimewaan yang melekat pada posisi Parbaringin tsb di atas, dapat disimpulkan bahwa   seorang  Pendeta dalam masyarakat Batak dahulu benar-benar sangat dihormati dan dipandang hampir suci. Dan sesuai fungsi dan tugas-tugasnya, dalam kehidupan sehari-hari seorang Pendeta adalah teladan bagi orang Batak dalam banyak hal seperti berikut:
  • Mardebata (Bertuhan)
  • Martutur (Berkerabat)
  • Marpatik (Beraturan atau melaksanakan aturan)

  • Maruhum (Melaksanakan dan tunduk kepada hukum)
  • Maradat/marraja (Berpemerintahan: patuh kepada adat, raja dan pemerintah)

Uraian fungsi dan tanggungjawab dwi-tunggal Raja dan Parbaringin di atas menunjukkan bahwa memimpin orang-orang Batak yang berkecenderungan mandiri itu mungkin memang sulit, tetapi bukan suatu hal yang tidak mungkin. Dalam hal ini yang harus dilakukan oleh para pemimpin sekuler dan pemimpin rohani (pendeta) mereka adalah bekerja dengan keras untuk kesejahteraan rakyatnya dan hidup dengan jujur.  Demikianlah para pemimpin  itu menjadi  teladan yang pantas dipanuti karena mereka selalu melakukan apa yang mereka katakan, they mean what they say.
Konsep keteladanan pemimpin Batak di atas adalah sebuah konsep yang dijiwai oleh agama Batak. Konsep itu pastilah suatu idealisasi, yang  mungkin sangat sukar dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun fenomena bahwa sebuah agama yang kita anggap kafir (sipele begu/parbegu) saja seperti agama Batak bisa melahirkan suatu konsep yang indah seperti itu, membuat kita berpikir bahwa adalah sangat pantas untuk mengharapkan bahwa penerapan keteladanan oleh para pemimpin  Batak Kristen, sekuler maupun rohani, akan jauh lebih baik dan lebih benar. Kita dapat meyakini hal ini karena kepada para pemimpin jemaat-jemaat Kristen pertama di Asia Kecil, Petrus juga mengatakan sbb:
1 Petrus 5:2-3:
Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.

Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.
Budaya bangsa Indonesia adalah budaya yang terdiri dari puncak-puncak budaya semua suku bangsa yang ada di Indonesia. Keteladanan pemimpin duniawi maupun rohani tsb di atas adalah salah satu produk puncak budaya Batak. Seyogianyalah produk puncak tsb mendapat kesinambungan dalam kiprah orang-orang Batak Kristen dalam kehidupannya di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia di masa-masa yang akan datang.

Disadur dari tulisan sdr Patiaraja Panjaitan

Mari  kita berpikir sejenak, darimanakah para pemimpin Agama Batak ( Parbaringin ), mendapat ilham yang memiliki tatanan kehidupan sosial yang begitu tinggi ? 

Bagaimana dengan kita yang menganut agama ang sah dan diakui oleh Konstitusi, apakah kita mempunyai konsep kepemimpinan seperti mereka (Parbaringin.red)?

Semoga!!!!

HORAS...HORAS...HORAS...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar