Rabu, 19 Februari 2014

SEKILASMENGENAI AGAMA MALIM

Horas...!!!
Saya akan berbagi apa yang saya ketahui mengenai adat istiadat terutama mengenai UGAMO MALIM atau yang sering disebut PARMALIM.

PARMALIM
Parmalim sebenarnya adalah identitas pribadi, sementara kelembagaannya disebut Ugamo Malim. Pada masyarakat kebanyakan, Parmalim sebagai identitas pribadi itu lebih populer dari “Ugamo Malim” sebagai identitas lembaganya.
Berjuang bagi Parmalim bukan hal baru, karena leluhur pendahulunya dari awal dan akhir hidupnya selalu dalam perjuangan. Perjuangan dimulai sejak Raja Sisingamangaraja menyatakan “tolak” kolonialisme Belanda yang dinilai merusak tatanan kehidupan masyarakat adat dan budaya. Masuknya tatanan baru seiring dengan menyusupnya “kepercayaan baru” yang meninggalkan “Mulajadi Nabolon”.
Perjuangan Parmalim tidak berakhir hingga Indonesia memperoleh kemerdekaan. Setelah “orang negeri” memegang tampuk kekuasaan tidak otomatis mendapatkan kemerdekaan bagi “kepercayaan” yang diajarkan Sisingamangaraja dan pengikutnya. Bahkan hambatan semakin dahsyat, yang menyakitkan, ini datangnya bukan dari penjajah, tetapi dari warga negara yang sama-sama bahagia memperoleh kemerdekaan itu. Dalam pemerintahan, penguasa negeri ini menghambat proses pengakuan terhadap “AJARAN HAMALIMOM” Sisingamangaraja dan pengikutnya yang melebur dalam Parmalim. Ini terjadi bertahun-tahun hingga dikeluarkannya Undang-undang No 23 Tahun 2006. Undang-undang ini memberikan kesempatan kepada Parmalim untuk dicatatkan sebagai warga Negara melalui kantor catatan sipil walau tidak diberi kesempatan menuliskan identitas sebagai Parmalim di Kartu Tanda Penduduk.
Parmalim juga mengalami hambatan horizontal. Masyarakat khususnya Batak masih menganggap Parmalim aliran yang sesat. Bahkan lembaga agama lainnya masih memberikan stigma buruk kepada Parmalim seperti tidak memiliki peradaban, belum mengenal jalan kebenaran Tuhan dan lain sebagainya. Banyak generasi muda batak keheranan begitu seorang memperkenalkan diri sebagai Parmalim. Upaya menyingkirkan dan menindas seperti ini ditambah lagi dengan pernyataan bahwa Parmalim tidak mengakui adat Batak.

Parmalim biasanya tidak akan menjawab tudingan hinaan dari masyarakat dan lembaga agama maupun intelektual yang menuliskan dalam buku sejarah atau sebuah jurnal. Akibatnya, stikma itu makin pekat dan sulit dihapus. Tidak ada kepentingan mereka menjernihkan pendapatnya yang miring terhadap Parmalim karena dilatarbelakangi kepentingan dan kebiasaan membicarakan sesuatu yang tidak jelas bagi dirinya.

Selasa, 18 Februari 2014

FONT AKSARA BATAK TOBA


Belajar Aksara Batak Toba harus banyak latihan, sama halnya dengan belajar yang lain. Tentu kawan-kawan sekalian sudah bisa menulis Aksara Batak Toba diatas kertas. Bagaimana untuk menulis di PC?
Sekarang nukan hal yang sulit lagi, karena sudah tersedia font Aksara Batak Toba.
 
Cara menginstal Font Aksara Batak Toba:
1. Setelah proses download selesai klik 2 x icon font seperti gambar dibawah ini:
 



2. Klik 2 x pada icon tersebut hingga muncul gambar :

















3. Selamat memulai menulis aksara batak pada PC anda.

 
4. Terkadang kotak instal tidak terlihat tergantung jenis PC nya ( pernah ngalami,
     (hehehe).Apabila hal itu terjadi, copy icon Font Aksara Batak ( Ctrl + C ) lalu pastekan
    di folder Font pada PC atau Laptop.


Untuk mencari folder font :
a. Klik kanan pada menu start menu, pilih explore.
b. Kemudian pilih Drive C
c. Pilih folder Windows dan pilih folder Font .
d. Paste ( Ctrl+V ) yang dicopy tadi kedalam folder font tsb.
e. Selamat mencoba....

FONT AKSARA BATAK TOBA
OSSOP MA DISON

Artikel terkait:
BELAJAR AKSARA BATAK TOBA

BELAJAR AKSARA BATAK TOBA

Kali ini saya akan mencoba menulis tentang aksara batak toba...
Ta mulai ma ate dongan!!!

Semula aksara Batak hanya dipahami dan dimengerti oleh kalangan yang sangat terbatas saja yaitu para ahli mejik (magic) dan pengobatan (datu atau guru). Jadi pustaha pada umumnya ditulis para datu. Kelompok pemimpin agama (parbaringin dan parmalim) juga memahaminya tetapi hanya menulis hal-hal tata cara keagamaan saja, karena mereka sama sekali bukan datu dan tidak mencampuri urusan mejik. Pustaha isinya kebanyakan memuat tentang kedukunan, obat-obatan, dan peramalan (nujum). Ini yang dituliskan. Jadi dalam pustaha tidak ditemukan mengenai silsilah (tarombo), kesusasteraan, pantun, syair (turi-turian, umpama/umpasa) yang adalah diturunkan dari generasi ke generasi secara lisan.

Aksara asli sesungguhnya semakin melenceng dalam buku-buku yang ditulis para penulis belakangan ini. Sehingga kita akan kesulitan membaca teks asli Pustaha kalau bersandar pada penulis kita belakangan ini, yang hanya bermodal semangat tanpa rujukan yang memadai. Tetapi bagaimanapun harus dihargai. Cuma saatnya sekarang untuk dikoreksi agar tidak semakin berlarut-larut. 

Sebenarnya itu semula terjadi karena banyaknya versi-versi tulisan Batak diantaranya dibuat oleh :
1. Herman Neubronner van der Tuuk, seorang ahli bahasa berkebangsaan Belanda, yang   
    menerbitkan buku “Tentang Tulisan dan Pengucapan Bahasa Toba” (Overschrift en 
    Uitspraak der Tobasche Taal, 1855). Jadi sebelum datangnya Nommensen.
2. Versi Percetakan Zending Jerman sejak 1873, yang berpijak pada versi van der Tuuk,  
     menterjemahkan Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama dalam aksara Batak
3. Versi Percetakan Landsdrukkerij sejak 1885 mencetak buku-buku pelajaran sekolah
4. Versi “Surat Pustaha” buatan pemerintah kita, yang semakin jauh dari bentuk asli.

Kita tidak akan membahas versi-versi diatas lebih jauh karena kita disini mau belajar dari versi asli yang tertulis dalam naskah asli Pustaha.
Ada 5 varian aksara Batak yaitu Karo, Pakpak, Simalungun, Angkola/Mandailing dan Toba yang menunjukkan banyak kemiripan satu dan lainnya. Disini dibuat pedoman praktis menulis Batak Toba saja.

Aksara Batak dibagi dua :
Ina ni surat dan anak ni surat. Biasanya urutannya diketahui selama ini dan sering dipakai di sekolah adalah a-ha-na-ra-ta-ba-wa-i-ma-nga-la-pa-sa-da-ga-ja. Urutan ini mudah untuk diingat dalam bentuk kalimat “aha na rata baoa i mangalapa sada gaja” yang artinya “apa yang hijau lelaki itu memotong seekor gajah”. Tetapi sesungguhnya urutan ini adalah ciptaan baru dan tidak memiliki landasan tradisional.

INA NI SURAT
























ANAK NI SURAT
Semua ina ni surat berakhir dengan bunyi /a/. Bunyi ini dapat diubah dengan menambah nilai fonetisnya. Pengubah ini disebut diakritik. Diakritik dalam anak ni surat sebagai berikut :
1.Bunyi /e/ (pepet/keras) disebut ‘hatadingan’,
dengan menambah garis kecil disebelah kiri atas ina ni surat, contoh :



2.Bunyi /ng/ disebut ‘paminggil’, dengan menambah garis kecil disebelah kanan atas ina ni surat, contoh :









3.Bunyi /u/ disebut ‘haborotan disebelah bawah ina ni surat, contoh :









4.Bunyi /i/ disebut ‘hauluan’ bentuk lingkaran kecil setelah ina ni surat, contoh:









5.Bunyi /o/ disebut ‘sihora’ atau ‘siala’ berupa tanda kali setelah ina ni surat, contoh:









6.Tanda mati untuk menghilangkan bunyi /a/ pada ina ni surat disebut ‘pangolat’, contoh:


Untuk mengakhiri sebuah bab atau bagian tulisan biasanya ada ditemukan lambang
Aksara Batak tidak mengenal tanda titik dan angka.











Suku kata KVK
Perlu diingat pada suku kata tertutup dengan urutan Konsonan-Vokal-Konsonan (KVK), maka anak ni surat yang menandakan vokal diletakkan diantara vokal kedua dengan tanda mati (pangolat).

Contoh:
GOK 




MOKMOK 




Huruf /a/ a sebagai penopang vokal
Huruf Batak hanya mengenal dua ina ni surat sebagai penopang vocal yakni /i/ dan /u/, sehingga huruf a dipakai juga untuk huruf /e/ dan /o/ pada awal suku kata. Maka ae dibaca /e/ dan ao dibaca /o/ 
Contoh :









Huruf /i/ dan /u/
Kedua aksara ini hanya dipakai pada awal suku kata terbuka.

Contoh : ulu dan ingot 
Vokal ganda (diftong) /w/ dan /y/
Meski fonem /w/ dan /y/ tidak terdapat dalam bahasa Toba, tetapi dalam naskah pustaha tidak jarang ditemukan penggunaannya huruf y /y/ dan w /wa/ untuk menyambung dua vokal, misalnya



Perhatikan penulisan dibawah ini:











Sumber :
S.Simatupang 2006, Koreksi atas Penulisan Aksara Batak Toba
Uli Kozok, 1999, Warisan Leluhur-Sastra Lama dan Aksara Batak, KPG
Uli Kozok, 2000, The Seal of the last Singamangaraja, Indonesia and the Malay World, Vol 28 No 82, Carfax Publishing



AKU BANGGA JADI ORANG BATAK
HALAK BATAK DO AHU

HORASBANGSO BATAK

 

Minggu, 16 Februari 2014

Sabtu, 15 Februari 2014

LAGU SAGALA RAJA

Akhirnya berhasil juga membuat link download lagu Sagala Raja.

Kepada saudara-saudara yang belum memiliki lagu Sagala Raja silahkan download aja. Format Mp3.

Sagala Raja Cipt. Maraden Sagala/J. Jarliman Sagala

Ziddu
DOWNLOAD

4shared
DOWNLOAD


Sagala Raja Cipt. Rusman Sagala

Ziddu
DOWNLOAD

4Shared
DOWNLOAD

Selamat menikmati...

HORAS SAGALA RAJA

Persembahanku



Bagaimanakah dapat ku ucapkan syukur atas segala karunia kasih mu pada ku.
Suara sejuta malaikat takkan dapat mengungkapkan, perasaan terima kasihku kepada MU TUHAN...
dst...

Lagu ini cocok dibawakan pada perayaan paskah.

Silahkan didownload di link di bawah ini

DOWNLOAD